Cerita Seks Pemerkosaan - Diperkosa Dan Digilir 3 Orang

KUmpulan cerita Seks Pemerkosaan, Pemerkosaan yang bergiliran oleh 3 orang. Kumpulan cerita pemerkosaan hanya ada disini di Cerita Seks Dewasa Terbaru.

Pada hari Sabtu sore berikutnya kuterima telpon dari Heri. Katanya kalau malam minggu ini aku tidak rencana kemana-mana dia mau datang menginap. Kuiyakan saja permintaannya, tapi dengan syarat dia tidak datang dengan Andi. Heri tertawa dan meneruskan … "Tapi ada syaratnya juga lho." Kutanya juga walau rasanya aku tahu yang ia maksud … "Syaratnya nanti kalau ngemutin musti sampai keluar ya." Aku pura-pura tidak mengerti … "Lho selama ini kan juga sampai keluar." Dengan nada kalem Heri menanggapiku … "Iya, tapi kan nggak di mulut."
Sambil duduk-duduk di atas karpet dan menonton film akhir pekan Heri terus kuganggui.

Kuusap-usap dengkulnya, lalu pahanya dan kuremas-remas bagian tertentu yang tertera pada celananya. Begitu film di televisi berakhir kuminta ia untuk menceritakan 'blue-film' terakhir yang ia lihat beberapa hari yang lalu. Dengan gayanya yang kalem menghanyutkan iapun mulai menceritakan adegan-adegan dalam 'blue-film' yang telah ditontonnya itu secara rinci. Ada rasa geli pada 'kepunyaan'ku, aku mulai terangsang. Apa lagi membayangkan 'kepunyaan' Heri di balik celananya. Akhirnya kuajukan pertanyaan pancinganku … "Her, kamu punya bangun nggak?" Tersenyum simpul ia menjawab … "Iya dong, filmnya kan masih kebayang jelas banget." Dengan suara yang sudah gemetar dan nafas yang terengah kuminta kepadanya … "Titi pengen pegang dong." Heri melorot celananya turun, segera tanganku menyambar 'batang kemaluan'nya yang telah mengeras. Diapun mengusap-usap 'kepunyaan'ku dengan tangannya.

Beberapa saat kemudian kuminta lagi … "Turunin lagi dong celana, pengen pegang semua nih." Akhirnya dilorotnya celana panjangnya sebatas paha, sehingga aku bisa leluasa memainkan 'batang kemaluan'nya. Setelah tidak lagi tertahan rasanya kutawarkan kesiapanku untuk melayaninya … "Diemutin ya Her." Entah bercanda atau sungguh-sungguh Heri menimpali dengan gaya menolak … "Udah deh Ti … ntar nggak jadi lagi kayak waktu itu. Mendingan kita ke kamar mandi aja … kamu loco-in di sana." Aku heran karena kali ini nadanya agak tegas. Maka kuajak dia dengan nada manja … "Iya deh, Titi beneran deh sekarang. Nanti Titi emutin di kamar mandi ya?" Dengan gaya yang jantan Heri setuju … "Yuk! Tapi yang bener ya ngemutinnya!"

Kamar mandi-nya itu bukan kamar mandi abasah. Lebih tepatnya sebuah WC kering sebagai pelengkap ruang tamu. Di salah-satu sudut 'toilet' yang paling luas juga ada karpet empuk. Di situlah kuminta Heri duduk dengan santai. "Celananya buka aja semua ya" … kusarankan kepadanya … "Celana dalamnya juga ya." Heripun setuju … "Iya deh. Biar entar nggak basah kalau pas keluar." Seolah-olah hamba sahayanya kulorot lepas celana panjang dan celana dalam Heri, lalu kusampirkan di gantungan pakaian.

Kucari posisi yang paling enak, yaitu membujur tepat di hadapan tubuhnya yang menyandar. Masih sempat kutanya kepadanya … "Her, mau dikeluarin di luar apa di mulut?" Seperti tidak terlalu banyak berharap dia menjawab enteng … "Terserah kamu aja Ti." Tapi aku masih belum puas … "Kamu dong Her yang nentuin, nanti Titi yang ngikutin kemauan kamu." Dengan tegas akhirnya ia menegaskan … "Kali gitu di mulut deh."

Kumulai langsung dengan menjilati selangkangan, terutama pangkal pahanya, lalu pangkal kemaluannya. Heri mendesis kegelian. Aku tambah terangsang, terutama ketika bulu rambut kemaluan Heri mengenai bibir dan pipiku. Juga sewaktu kujilati perut di bagian bawah pusernya. Kugenggam 'batang kemaluan'nya yang sudah menegang keras, terlihat mulus. Hangat dan berdenyut-denyut. Karena Heri orangnya kuning langsat, tampilan 'kemaluan'nya juga terlihat bagus. Dengan sembunyi-sembunyi dulu pernah kuukur, ada kira-kira 15 cm panjangnya. Bentuknya aku sukai, karena kepalanya bulat keras, lebih besar dari pada diameter batangnya. Kesannya jadi gagah sekali. Begitu juga waktu sedang tegang, kerasnya betul-betul 'ajeg' atau 'stabil.' Artinya keras yang terus-menerus, seperti tonggak batang kayu.

Kali ini aku bertekad untuk memuaskan 'obsesi' yang selama ini agak kutahan-tahan, mungkin karena perasaan malu atau gengsi. Apa yang kusebut 'obsesi' itu adalah keinginan untuk membaui aroma 'kemaluan lelaki' dari jarak dekat. Tapi supaya jangan terlalu jelas aku pura-pura memulai dengan menjilati biji kemaluan Heri. Sambil kulakukan itu pelan-pelan bagian atas kemaluan Heri kudekatkan ke hidungku, hingga akhirnya menempel rapat.

Kutarik nafas dari hidungku sambil menikmati bau kemaluan Heri. Baunya yang khas tercium jelas sekali. Bau 'daging kemaluan' yang tersimpan berkeringat berjam-jam dalam celana memang khas. Sedikit bercampur dengan bau agak 'pesing' samar-samar. Aku merasa disegarkan, terangsang dan semakin bergairah. Dadaku terasa agak sesak, nafasku tersengal-sengal dan agak tersedak ketika menelan air liur. Tanpa sadar caraku menciumi 'batang' dan 'kepala kemaluan' Heri jadi semakin bernafsu. Sesekali kuusap-usap 'batang keras' itu di leher dan wajahku. "Hah .. hah … he he …," desah keenakan Heri sedikit bercampur dengan tawa lembutnya.

Rupanya ia memperhatikan apa yang sedang kulakukan. Sedikit merasa malu karena ketahuan segera kulanjutkan menjilati kemaluan Heri, mulai dari 'kantong buah pelir'nya, lalu sepanjang 'batang'nya dan akhirnya 'ujung topi baja'nya. Kujilati bagian atas 'kemaluan'nya dengan gerakan melingkar. Kudorong ujung lidahku masuk ke 'mulut kemaluan'nya. Sementara itu pelan-pelan kancing baju Heri kubuka satu persatu. "Kenapa Ti?" … tanya Heri. "Biar nggak kehalang baju kamu," … jelasku padanya. Lalu katanya, … "Dilepas aja ya?" Dengan cepat kujawab, … "Iya Her, lepas aja." Dengan dia melepas bajunya aku dapat merasakan kehangatan dan mencium aroma tubuhnya. Sesuatu yang sejak awal telah memikat perhatianku.
Akhirnya dengan penuh gairah kumasukkan 'batang kemaluan' yang keras itu ke mulutku. Kuemut-emut tanpa henti, sesekali keras, lalu lembut, untuk memberi 'dampak' maksimal kepada Heri. Sambil mengemuti 'kemaluan'nya itu tidak lupa kujilati di dalam mulutku. Juga sesekali kukeluarkan dari mulutku untuk kujilati. Kalau hal itu kulakukan terlalu lama Heri akan mendorong bahu atau tengkukku sebagai tanda supaya kumasukkan lagi ke mulutku. Di luar dugaanku rupanya Heri juga ingin mencoba-coba hal yang baru.

Tiba-tiba saja dia menyuruhku, …"Masukin yang dalem Ti." Kucoba menelan seluruh 'batang kemaluan' Heri. Tapi rupanya itu belum cukup. "Abisin … telen semua sampe abis," … kata Heri dengan gaya memerintah. Kucoba lakukan itu demi memuaskan pejantan yang satu ini. Kutahan nafasku dan kudorong masuk seluruh 'daging keras' Heri memenuhi rongga mulutku, bahkan terus hingga ujungnya mendesak tenggorokanku. Hampir saja aku merasa mual. "Aduh Her, kepanjangan Her … mana besar, keras lagi," … kataku menyerah, tapi juga sambil memuji. Heri tertawa kecil. Dengan nada bercanda ia bertanya sambil menegaskan, … "Makanya kamu suka ngemutin 'punyaan'ku kan?" Terus saja kulanjutkan membuatnya semakin percaya diri, … "Iya Her, terus terang aja deh, aku memang suka banget."

Entah apa yang ada di pikirannya kemudian Heri menyuruhku mencoba lagi sesuatu yang baru. "Ti coba yang kayak di film Ti …," katanya mengusulkan. "Bibirnya dikerasin, terus kamu dorong-dorong 'itu saya' masuk ke mulut kamu," … demikian Heri mengarahkanku. Ketika kuikuti kemauannya Heri mengerang lembut karena sensasi yang dirasakannya. Sensasi itu timbul ketika 'batang kemaluan'nya menerobos bibirku yang kusempitkan dan kukeraskan, sehingga berdampak menjepit. Setelah beberapa saat kembali kuemuti 'batang kemaluan' Heri.

Kunikmati perasaan geli yang nikmat di lidah dan langit-langit mulutku. Tapi lama kelamaan rahang mulutku mulai terasa pegal. Apa yang tadi kuharapkan akan berjalan cepat, ternyata berkepanjangan, sehingga membuatku agak bosan. Maka karena tidak tahan lagi kuminta kepadanya, … "Her, kamu locoin deh Her." Dengan seenaknya dijawabnya aku, … "Kamu aja deh." Lalu ia bertanya, … "Emangnya kenapa sih?" Terpaksa kujelaskan, … "Lama banget sih keluarnya." Sambil tertawa kecil dia berkata, … "Terusin aja Ti, udah hampir kok."

Segera kuperhebat emutanku, sambil ibu jari dan telunjukku mengocok bagian bawah 'kemaluan'nya. Beberapa saat kemudian kudengar gumam suara Heri. "Hehm? … kuperdengarkan nada tanyaku, karena mulutku sedang sibuk mengemuti kemaluannya. "Sekarang Ti … hah … hah … aaah!" … gaya suaranya membuatku sadar apa yang sedang terjadi. Aku merasa agak kuatir apakah aku bisa meneruskan apa yang tadi telah kujanjikan. Bagaimana kalau aku nanti mual atau malahan muntah? Tapi akhirnya aku memang tidak bisa mundur lagi. Tangan kanan Heri menekan pundak dan tengkukku, sehingga memaksa aku untuk menerima apa yang harus terjadi. Dibarengi dengan helaan nafas panjang, bercampur nada erangan, Heri melepas semburan 'air mani'nya di mulutku.

Semburan pertama terasa asin agak pahit bercampur 'manis,' langsung menerobos tenggorokanku dan tertelan olehku. Diikuti semburan-semburan yang memenuhi rongga mulutku. Sebagian besar langsung kutelan, tapi ada juga yang mengalir keluar dari celah bibirku dan membasahi pipi, dagu dan leherku. Ternyata aku sama sekali tidak merasa mual ataupun ingin muntah. Malahan aku menyukai cairan kental air mani Heri yang terasa asin di mulutku itu. Kunikmati seluruh sensasi yang melandaku, sambil terus mengemuti 'batang kemaluan' Heri yang masih tetap keras. Ketika aku berhenti mengemut-emut 'kemaluan'nya Heri segera berdiri. Akupun mengikutinya, tapi langsung terhenti oleh apa yang kulihat.

Tubuh Heri yang ramping terlihat sangat merangsang, karena 'batang kemaluan'nya masih terus tegang. Panjang dan keras, basah dan berkilat. Akupun berlutut di depan Heri seperti seorang 'hamba' atau 'sahaya' di hadapan 'tuan'nya. Dengan penuh keinginan kudekatkan mulutku pada 'kemaluan'nya. Kujilat-jilat 'batang kemaluan' yang basah oleh sisa cairan 'air mani.' Setelah itu kumasukkan ke mulutku dan kuemut-emut. "Aduh Ti … geli …", Heri meringis, … "geli banget!" Kuhentikan apa yang kulakukan sambil menarik tubuhnya.

Sekarang giliranku meminta, … "Sekarang Titi dong Her, cepat usapin sampai keluar." Sementara aku berbaring menelentang Heri kembali berlutut di sampingku. Dengan tangan kanannya diusap-usapnya 'kemaluan'ku. Karena masih ada keinginan kutegakkan tubuh bagian atasku dan kembali kuemut-emut 'alat kejantanan' Heri yang masih lumayan keras. Tidak lama kemudian aku mulai mencapai 'klimaks.' Usapan tangannya membawaku ke puncak 'orgasme' yang sangat nikmat. Sambil menikmati puncak kepuasanku di malam itu, 'kemaluan' Heri kujilati.
Sejak Didi ku-masturbasi beberapa waktu yang lalu ia menjadi semakin dekat dan akrab denganku. Kalau kami sedang kumpul-kumpul dengan teman-teman lainnya seringkali ia merangkul-rangkul diriku. Sebenarnya aku merasa agak risih, tapi juga sekaligus senang. Kadang-kadang Didi menggangguiku dengan pertanyaan, …"Kapan dong gemesin-nya lagi?" Biasanya aku hanya senyum dan berusaha menjauh darinya.

Dalam situasi terbuka seperti itu malu juga rasanya kalau teman-teman lainnya sampai tahu. Tapi entah bagaimana perasaanku mengatakan tidak lama lagi aku harus memenuhi apa yang seolah-olah telah aku janjikan.

Waktunya tiba hanya beberapa hari setelah aku melakukan 'masturbasi' pada Ryan di kemah. Pada suatu malam, ketika aku sedang belajar, satpam penjaga rumahku menyampaikan bahwa ada temanku yang datang. Segera kubergegas untuk menemui tamu itu di teras depan, walau aku tidak tahu dia siapa. Ternyata tamuku itu adalah Didi. Segera aku keluar dan duduk di depannya. Segera kami terlibat dalam pembicaraan ringan.

Entah bagaimana tiba-tiba saja pembicaraan sudah mengarah ke model celana yang ia kenakan. Baru aku sadar kalau celana dengan kantong di samping bagian depannya akan mengerucut ke depan sewaktu pemakainya duduk. Langsung Didi menjelaskan juga keuntungannya adalah kalau tiba-tiba 'kemaluan'nya bangun tidak akan terlihat. Lalu sambil tersenyum dia berkata, …"Seperti sekarang ini Ti." Kuputuskan untuk menanggapinya dengan ringan, …"Kok bisa jadi bangun?" Didi menatapku penuh arti dan mengajakku, …"Ngobrol di kamar aja yuk." Karena tidak tahu apakah aku harus menolaknya kuikuti saja kemauannya itu.

Setibanya di kamar aku duduk di kursi meja belajarku. Kupersilahkan Didi duduk di kursi satunya, tapi ia tidak mau. Ia malah berdiri menyandar di meja belajarku. Posisinya dekat sekali denganku sehingga sempat aku merasa agak 'risih.' Sejenak kami berdua tidak tahu apa yang harus dan akan kami katakan. Hingga akhirnya suara Didi memecah keheningan, …"Panjang 'kontol' saya berapa Ti waktu 'ngaceng'?" Aku yang sudah merasa grogi menjawab dengan suara agak gemetar, …"Aduh … berapa ya Di?" Dengan penuh percaya diri Didi menatapku tajam. Lalu berkata, …"Ukur lagi aja." Melihat aku diam saja ia berkata lagi, …"Ayo dibuka dong, biar bisa diukur." Sekarang karena hanya sendirian keberanianku berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Agak was-was kuturuti permintaannya dan kubuka celananya.

Kusingkapkan turun celana dalam Didi hingga 'kemaluan'nya menyembul keluar, keras mengacung di depanku. Lalu kuukur dengan penggarisku dan kuberitahukan hasilnya. Kataku lirih dengan suara gemetar, …"17 senti-an Di." Didi menanggapi dengan bertanya, …"Besar nggak tuh?" Polos saja kujawab dia, …"Ya panjang, besar lagi." Tanganku yang masih memegang 'kemaluan' Didi agak bergetar ketika kudengar pertanyaan Didi yang semakin menjurus. "Sekarang ini bikin gemes nggak Ti?" …, demikian ia bertanya sambil menyorongkan 'batang kemaluan'nya ke arah wajahku. Aku diam saja dalam keadaan agak bingung. Tampaknya Didi agak gusar. Berkata lagi ia, …"Jawab dong pertanyaannya … bikin gemes nggak?" Terpaksa aku menjawab, …"Iya juga sih Di." Wajahnya yang terlihat agak kesal, mungkin karena sudah tidak sabar, terlihat makin kelam. "Jadi sekarang gimana?" …, Didi bertanya dengan suara yang membuatku agak bergidik. Kutatap wajahnya dan bertanya, …"Diemutin ya Di?" Melihatnya mengangguk pasti aku berkata, …"Iya deh. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya."

Kudekatkan mulutku hingga merapat pada 'batang kemaluan' Didi. Aroma 'alat kejantanan lelaki' yang amat khas itu memenuhi rongga hidungku. Membuatku bergairah dan menghapus keraguanku. Didi memang anak 'badung,' dari keluarga yang sederhana, akan tetapi dia juga anak lelaki yang jantan. Kukecup-kecup seluruh 'batang kemaluan' Didi hingga membuatnya meringis kegelian. Lalu kujepit-jepit 'kemaluan'nya itu dengan bibirku, hingga ia berdesis. Akhirnya kuminta ia duduk di pembaringan.

Kutarik celana Didi turun, berikutnya juga celana dalamnya. Kemudian mulai kujilati 'kemaluan'nya, sambil sesekali kukecup-kecup dengan bibirku. Kujilati juga selangkangan dan 'kantong buah pelir'nya. Walaupun tidak kuminta Didi melepas bajunya sehingga ia benar-benar bugil tanpa busana. Mungkin ia merasa kepanasan. Waktu kudorong lembut, Didi mengundurkan tubuhnya ke belakang, sambil menyangganya dengan kedua lengannya. Pada waktu itulah kumasukkan 'kepala kemaluan'nya ke dalam mulutku.

Sambil mengulumnya, lidahku juga bermain menjilati. Didi tampak sangat menikmati apa yang kulakukan pada 'kemaluan'nya itu. Sewaktu sudah sangat terangsang tangan Didi menarik kepalaku dan mendorongnya ke bawah. Seluruh 'batang kemaluan' yang begitu besar dan panjang itu terdorong masuk memenuhi rongga mulutku. Langsung aku emut-emut, atau lebih tepat bila kukatakan 'kemot-kemot' mengingat ukuran 'kemaluan' Didi yang yang begitu besar itu. Atas permintaannya sesekali 'batang keras' Didi kukeluarkan dan kujilati. Dari atas ke bawah dan melingkar-lingkar bulatan besarnya. "Wah kamu cocok Ti jadi penghibur lelaki," … dengan nada halus tapi juga dengan makna yang sangat kurang ajar Didi memberi komentarnya atas diriku. Tapi langsung kuprotes kata-katanya, …"Ah ini kan hanya sama kamu," kataku bohong. Sambil tertawa Didi menimpaliku, …"Iya deh … Awas lho kalau ketahuan sama orang lain!" Aku tidak membantahnya lagi. Memang Didi jauh berbeda dibanding Heri yang kepribadiannya jauh lebih halus dan terdidik.
Menjelang akhir 'pelayanan oral'ku Didi sudah semakin terangsang. Gaya dan caranya memperlakukanku semakin bertambah kasar juga. Dengan kedua tangannya ia mendorong dan menekan kepalaku, supaya aku mau menelan seluruh 'kemaluan'nya. Gerakan kepalaku yang turun naik membuat 'kemaluan'nya bergerak turun naik pula di rongga mulutku. "Aah Ti … udah hampir nih … terus emutin yang keras … hah … hah … ayo … ayo" Demikian Didi terus meracau seenaknya, sampai aku kuatir juga kalau-kalau ada di antara pembantu rumahku yang mendengarnya.

Pada puncaknya di tekannya kepalaku dan di dorongnya 'batang kemaluan'nya hingga mencapai batas tenggorokanku. Lalu dia mulai ber-'ejakulasi' ….. Semburan yang keluar dari mulut Didi tidak sekencang Heri atau Ryan, tapi cukup membuatku kerepotan juga. Salah sedikit dalam mengaturnya aku bisa terselak. Tapi orang seperti Didi tidak akan perduli dan terus saja mendorongkan 'alat kejantanan'nya ke dalam mulutku. Cukup banyak juga cairan mani kental Didi yang terpaksa kutelan pada malam itu. Bahkan wajahkupun terasa lengket, karena setelah puas menumpahkan semburan air maninya di mulutku, kemudian Didi masih menggosokkan 'batang keras'nya ke pipi dan bibirku. "Aah … Asik juga emutannya Ti" … sambil menghela napas panjang Didi memujiku. "Puas juga aku nih malam" …, katanya sambil mengenakan pakaiannya kembali. Aku diam saja, juga sewaktu ia membuka pintu dan keluar dari kamarku.

DIHINA SENANG

Pada suatu sore, beberapa hari setelah Didi kupuaskan dengan 'pelayanan oral-ku,' aku pergi ke jalan di mana rumah Ryan berada. Ketika sedang duduk-duduk di taman dengan beberapa temanku, kulihat pembantu Ryan keluar dari rumahnya dan berjalan mendekat. "Ti, dipanggil Ryan" … katanya dengan sopan. "Memangnya dia di mana?" … tanyaku kepada Eko, pembantu Ryan itu. "Ada di dalam, di kamarnya … tolong datang sebentar deh, soalnya pesannya supaya buruan." Akhirnya kuturuti ajakan Eko. Dia menuntunku memasuki rumah dan terus ke belakang ke kamar Ryan.
Kutemukan Ryan sedang duduk menungguku di tepi pembaringan di kamarnya. Dia hanya mengenakan sehelai handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. "Ada apa nyariin Titi?" Ryan hanya tersenyum dan memintaku mendekat. Tanpa malu-malu Ryan langsung bertanya kepadaku, …"Ti, mau ngemutin kontol nggak?" Aku agak terperanjat juga dengan pertanyaan yang begitu terus terang ini. Karena tidak tahu harus menjawab apa kujawab sekenanya, … "Mau sih mau aja, tapi apa nggak ntar aja abis kamu mandi." Dengan tegas Ryan menggelengkan kepalanya. "Nggak ah, maunya sekarang," … lalu sambungnya, …"Sini jongkok di depan sini." Kalau sudah begitu apa lagi yang bisa kulakukan, kecuali memenuhi semua kemauan remaja tampan ini.

Kusibakkan handuk yang melilit bagian tubuh Ryan yang paling pribadi ini. Kusampirkan handuk itu di sandaran kursi meja belajarnya. Kulihat 'batang kemaluan' Ryan sudah keras tegang. Melihat rasa heran di wajahku Ryan menjelaskan seolah-olah tanpa perasaan, … "Tadinya sih mau ngeloco, eh denger-denger Titi ada di depan rumah." Lalu sambungnya lagi dengan nada final, …"Jadi mendingan kamu aja deh yang ngemutin kontol saya. Kamu sendiri juga suka kan?" Terus terang kali ini aku merasa agak jijik. Mungkin karena belum mandi dan sudah seharian berkeringat 'kemaluan' Ryan terlihat agak basah mengkilat. Juga aroma khas 'kemaluan lelaki'nya agak kuat tercium hidungku. Maka berbeda dengan biasanya bagian menciumi 'kemaluan' aku liwati. Langsung kujilati 'kemaluan' Ryan, mulai dari 'kepala'nya sampai ke seluruh 'batang'nya. Apa yang kulakukan itu sekaligus dengan maksud membersihkan 'kemaluan' Ryan yang sebentar lagi akan kuemut.

Karena 'timing' yang tidak tepat aku ingin melakukan 'pelayanan oral'ku secepatnya. Selesai kujilati, 'kemaluan' Ryan yang besar, gemuk dan panjang itu langsung kumasukkan ke mulutku. Berbeda dengan Heri ataupun Didi, semua yang aku sedang lakukan itu ditontonnya. Bahkan kadang-kadang sambil tersenyum-senyum kecil. Terus terang hal ini membuat perasaanku kurang nyaman. Untung saja aku menyukai 'kemaluan' Ryan sehingga aku tidak merasa terganggu, apalagi bosan. Ryan sendiri juga tampaknya ingin segera mencapai 'klimaks'nya, karena sekali-kali dicabutnya 'kemaluan'nya itu dari mulutku, lalu dikocok-kocoknya dengan keras. Setelah mendekati puncaknya tiba-tiba Ryan menyuruhku berbaring di lantai, persisnya di lantai kamarnya yang berkarpet. Lalu dia mengangkang di atas wajahku. Di suruhnya aku menjilati 'kantong buah pelir'nya, sambil dia sendiri mengoocok-ngocok 'batang kemaluan'nya. Lalu diarahkannya ujung 'kepala'nya yang besar ke bibirku dan didorongnya masuk. "Ti, rasain nih Ti sekarang, mulut kamu dientotin kontol."

Tanpa ragu dan dengan gaya yang kasar digerakkannya pinggulnya turun naik, sehingga mulutku jadi seperti 'vagina' yang sedang di-'setubuh-i.' Keadaanku menjadi semakin parah sewaktu di menurunkan tubuhnya dan menyangganya dengan kedua lengannya, seperti orang akan melakukan 'push-up.' Sekali lagi di'genjot'nya mulutku dengan 'kemaluan'nya yang begitu besar itu. Aku sampai sulit bernapas, malah kadang-kadang tersedak.
Akhirnya Ryan kembali menegakkan tubuhnya. Sambil meng'genjoti' mulutku dengan 'kemaluan'nya ia berkata, …"Ti, udah mau keluar nih …ssh … hah … telen ya semuanya." Gaya dan cara bicara Ryan agak menghina. Seharusnya aku merasa tersinggung, tapi untung aku sendiripun sedang menikmati 'kemaluan' yang ukurannya benar-benar membuatku terangsang ini. Tiba-tiba Ryan berteriak, …"Aaah … aaah … aaah"
Bertepatan dengan saat semburan keras 'air mani'nya melanda rongga mulutku. Terpaksa aku menelan 'hadiah' dari Ryan dengan menelannya habis. Tapi itupun cukup banyak yang meluber keluar dari celah bibirku. Ryan menarik 'kemaluan'nya dari mulutku dan mengocok-ngocoknya keras. Sementara berkata asal-asalan, … "Aduuh ngentot, geli banget Ti, nih ditumpahin di muka ..." Beberapa semburan, lalu tetesan, yang masih keluar berjatuhan ke wajahku. Setelah itu Ryan masih sempat memintaku untuk menjilati 'kemaluan' yang untuk beberapa saat masih tetap keras itu. Setelah puas Ryan meraih handuk di kursi sementara berkata, … "Titi pulang dulu deh, sekarang saya mau mandi." Ditinggalkannya aku begitu saja, terkapar di lantai, berlumuran cairan 'air mani'nya. Dengan rasa sedikit 'masygul' kubersihkan wajahku, lalu bergegas keluar meninggalkan kamar tidur Ryan.

BASUHAN NIKMAT
Seperti pada malam minggu yang lalu kali ini Heri datang juga seorang diri. Dengan tidak mengajak Andy berarti kami bisa bebas melakukan apa yang kami inginkan. Kebetulan malam nanti ada film di bioskop yang kami ingin tonton. Tapi rasanya lama sekali kalau harus menunggu sampai larut malam nanti. Heri mengajakku meninggalkan teras tempat kami duduk-duduk. Katanya dengan setengah berbisik … "Mandi yuk." Tanyaku meminta ketegasan … "Barengan?" Heri hanya menyeringai … "Udah kepengen nih." Segera kami berdua menuju ke kamar mandi, kemudian langsung saling membuka pakaian sampai kami telanjang. Melihat 'batang kemaluan' Heri yang mengacung keras itu membuatku semakin lupa diri. Entah siapa yang memulai kami berpelukan dan saling meremas tubuh. Sesekali lengan bahunya kuciumi. Bau keringatnya membuatku semakin bergairah. Kemudian Heri mengajakku duduk, disandarkannya tubuhnya pada bak kamar mandi.
Dalam keadaan duduk bersandar di tembok itu Heri menikmati 'pelayanan seks oral' yang aku lakukan. Dengan bergairah 'alat kejantanan'nya kucium, kujilat dan kuemut. Terus menerus, berulang-ulang, tanpa henti. Setelah cukup lama berada pada posisi duduk seperti itu Heri mulai menggeliat pegal. Maka kuminta ia berganti posisi denganku. Sekarang aku yang duduk menyandar, sedangkan Heri berlutut mengangkang di depan wajahku. Di arahkannya 'batang keras'nya ke mulutku, didorongnya masuk, setelah itu digerakkannya mundur maju. Kukeraskan bibirku dan kujepit 'batang kemaluan' yang sedang bergerak tanpa henti itu. Tangan kananku meremas-remas pantatnya, sambil ikut mendorong-dorongnya. Kadang-kadang sebagai variasi kujilati 'alat kejantanan' dan kantong 'buah pelir'nya. Tapi tidak lama, karena aku lebih senang merasakan 'batang keras' Heri di mulutku.
Lama kelamaan gerakan pinggul Heri semakin keras. Aku tahu dia sudah hampir mencapai klimaksnya. Terbukti gaya dan sikapnya yang biasanya sopan kemudian menjadi agak berani. Dipegangnya kepalaku dan ditekannya mundur maju. Hingga akhirnya dia berkata dengan nafas tersengal, …"Hampir nih Ti … hah … hah ... udah hampir." Segera kubersiap-siap supaya nanti jangan terselak waktu Heri menyemburkan 'air mani'nya, karena posisi dudukku yang seperti ini. Erangan panjang yang keluar dari mulut Heri mengawali ujung adegan kami berdua. Semburan 'air mani' kentalnya yang pertama mengakhiri masa penantianku. Rasa kenyal hangat memenuhi mulut dan tenggorokanku. Semburan-semburan berikutnya terus menyusul berturut-turut. Karena tidak tahan terpaksa kudorong pinggul Heri menjauh. Akibatnya dia kehilangan emutan mulutku dan kehilangan rasa geli-geli enak pada 'kemaluan'nya. Dengan seenaknya digenggamnya 'batang keras'nya untuk dikocoknya, tanpa memperdulikan di mana wajahku berada. Pada posisiku jelas terlihat cairan kental Heri 'muncrat' keluar dari mulut kemaluannya, melambung tinggi dan tertumpah di wajahku. Kubiarkan ia melakukan hal itu dengan bebas, karena tidak mau mengganggu kenikmatan yang sedang ia rasakan. Cairan lengket kini mengalir di wajah dan leherku, jatuh tetes demi tetes ke atas dadaku. Segera kuraih 'batang kemaluan' Heri yang masih keras. Dalam keadaan basah berlumuran air maninya 'alat kejantanan'nya itu kujilati dan kuemut-emut. Sambil melakukan itu kuusap-usap 'kemaluan'ku sendiri. Karena dari tadi memang sudah terangsang tidak lama kemudian akupun mencapai 'klimaks'nya. Kunikmati puncak pengalamanku itu sambil terus mengemuti 'kemaluan' Heri. Demikian terus berlangsung hingga gairah kami sama-sama mereda. Sambil menghela nafas panjang Heri menjatuhkan tubuhnya di sampingku.

GAIRAH MARAH
Selesai mandi Heri dan aku segera menuju ke kamar tidurku. Begitu kubuka pintu kamar terkejut aku melihat Didi sedang duduk di ranjangku sambil merokok. Ia menatap ke arahku dan Heri dengan pandangan yang kurang enak, seperti ada kegusaran yang membersit di bola matanya. "Eh Di, udah lama ya?" …, aku bertanya dengan agak gugup. Dengan gaya sedikit acuh ia menjawab, … "Yah lumayan juga." Lalu tanyanya, …
"Dari mana Ti?" Terpaksa aku harus menjawab dengan sejujurnya, karena memang rambutku, dan juga rambut Heri, masih basah. "Eng … itu Di, eng …barusan mandi," … kucoba menjelaskan. Lalu Didi melihat ke arah Heri sambil bertanya tanpa tedeng aling-aling, … "Kalau elo? … Juga abis mandi?" Heri mengangguk ragu, sambil menatapku dengan pandangan bertanya. Karena suasana terasa kurang enak segera kukenalkan mereka berdua. Untung saja Didi masih mau menyalami Heri, karena kurasa ia bisa menduga bahwa aku dan Heri baru saja melakukan 'hubungan seks.' Ini sesuai juga dengan apa yang kudengar dari suara Didi dengan nada menggumam, … "Abis intim-intiman ya."

Segera kupanggil pembantu untuk membuatkan kami bertiga kopi susu. Barangkali saja dengan itu suasananya nanti bisa agak mencair. Tapi ternyata tidak juga. Didi tetap saja bicara seenaknya, membuat pernyataan-pernyataan dengan gaya yang lumayan 'sengak.' Melihat suasana yang kurang mengenakkan itu akhirnya Heri minta diri. Di luar dugaanku, begitu Heri keluar dari kamarku Didi juga pamitan akan pergi. Aku ingin menahannya, tapi tidak tahu bagaimana caranya.

Seharian aku merasa cemas, terutama memikirkankan apa yang mungkin terjadi pada Heri. Kalau Didi berubah 'berangasan' aku ragu Heri dapat membela dirinya. Soalnya Didi bukan hanya pandai berkelahi, tapi dia juga pandai berkelahi dengan ganas. Maka masih dalam keadaan cemas kuterima telpon Didi malam itu, kira-kira jam 7an. Terdengar suara Didi di gagang teleponku, … "Eh Ti, tadi gacoan lo udah gua kerjain." Dengan penuh rasa kuatir aku bertanya, … "Aduh Di anak orang kamu apain?" Suara Didi begitu tenang menjawab dengan nada yang kejam, … "Ah nggak gua suruh dia nyeritain tadi abis ngapain sama elo." Agak malu-malu aku bertanya, … "Dia cerita apa aja Di?"

Suara Didi terdengar kembali gusar ketika menjelaskan, … "Semua … semua … pokoknya dari A sampai Z belangnya elo udah ketahuan." Aku terdiam sejenak sebelum kembali bertanya, … "Terus Di?" Dengan nada penuh kemenangan Didi menjawab, … "Terus gacoan elo itu gua kerjain." Aku merasa bersalah sekali, bahwa karena aku Heri disakiti Didi. Kutanya lagi untuk memperjelas, … "Tapi nggak disakitin kan?" Didi tertawa kecil lalu menjawab, … "Oh nggak, dia kan takut sama gua. Jadi gua suruh gembel perempuan ngemutin kontol dia di warung kosong deket empang." Hampir tertawa aku mendengar keterangan Didi, tapi aku memilih untuk diam saja. Sebelum menutup telpon Didi masih sempat mengucapkan, … "Ti, kamu juga musti ngasih penjelasan sama saya. Besok deh kali saya datang."

Dua hari berturut-turut aku menghindar dari Didi, dengan cara pergi dari rumah pada jam-jam kuperkirakan dia akan datang. Tapi pada suatu malam, ketika kupikir sudah aman, Didi datang mendadak. Kepada satpam yang memberi-tahukan tentang kedatangannya kuminta sampaikan beberapa alasan. Kuminta untuk disampaikan kepada Didi bahwa aku sedang kurang enak badan, juga akan ada ulangan besok dan lain-lain. Karena kukira Didi sudah pergi, akupun mulai merasa tenang. Ketenanganku terusik ketika kudengar bunyi langkah bergegas cepat menuju kamarku. Diikuti langkah satpam yang tergopoh-gopoh mengikutinya. Segera aku berdiri, tapi belum sempat kukunci pintu kamarku Didi sudah membuka dan mendorongnya dengan keras. Satpamku ikut masuk ke kamarku, tapi supaya tidak terjadi hal-hal yang kurang enak kuminta dia keluar. Sekarang aku hanya berdua dengan Didi, 'pejantan' yang sedang marah dan terlihat gusar itu.
Bergegas Didi melangkah ke arahku.

Diraihnya kerah kaos 't-shirt'ku dan ditariknya dengan keras, lalu didorongnya aku hingga terjatuh berlutut. "Kamu berani-beraninya kurang ajar mainin orang ya. Belum pernah sih ngerasain digebukin. Dasar bajingan kelakuan kamu." Aku meminta-minta maaf atas karena tidak langsung menerima sejak tadi. Sambil menuding dan mendorong-dorong kepalaku Didi terus memarahiku, … "Dasar ganjen, sembarang orang asal punya kontol mau aja ngemutin. Dasar lonte ..." Aku bingung harus mengatakan apa, maka terpaksa aku berdiam diri saja. Didi terus saja marah-marah, … "Dasar murahan." Lalu sambungnya lagi, …"Terus berani-beraninya lagi nyuruh saya nunggu di jalanan." Tiba-tiba terdengar, …"Plak, plak!" Pipi kanan dan kiriku terasa panas, karena tamparan tangan Didi.

Sekarang aku merasa ketakutan juga sampai meminta kepadanya, … "Ampun Di, ampun, Titi nggak akan lagi berani-berani sembarangan sama kamu Di." Dengan mata mendelik Didi masih meluapkan kejengkelannya padaku, … "Kamu kan yang dulu butuh kontol, … yang kepengen ngemut-emut punyaan saya." Dengan gemetar aku hanya mengiyakan kata-kata Didi. Dicengkeramnya daguku, di'dongak'kannya kepalaku hingga menatap matanya. "Ayo bilang. Siapa yang butuh kontol?" … bentak Didi. Terpaksa aku mengatakannya, … "Iya Di, Titi yang butuh kontol." Tapi Didi belum puas juga, … "kontol siapa?" Kujawab saja, … "Iya Di, kontolnya Didi." Seolah-olah belum cukup jelas Didi masih bertanya lagi, … "Kenapa kamu doyan kontol saya?" Supaya jangan disakiti lagi kujawab dia sambil memuji-mujinya, … "kontol Didi yang paling besar Di … dan kuat. Jadinya Titi suka banget sama kontol kamu."
Walaupun kelihatannya sudah tenang ucapan Didi terdengar menakutkan, … "Iya deh. Tapi kamu masih harus saya tamparin." Kulihat Didi membuka dan menurunkan celananya hingga lepas semua. Lalu dikeluarkannya 'kemaluan'nya yang sudah tegang dan keras itu di depan wajahku. Gairahku terangsang juga oleh 'batang kejantanan' Didi yang terlihat begitu keras dan kokoh itu. Tiba-tiba terdengar, … "Plak! Plak!' Lalu lagi, … "Plak, Plak." Dengan sekuat tenaga Didi menamparkan 'batang keras'nya kepipi kanan dan kiriku, masing-masing dua kali. Walaupun tidak terasa sakit, aku dibuatnya merasa takut.

Tanpa sadar akupun memohon, … "Aduh Di ampun, ampun." Puas melihatku memohon belas kasihan dijambaknya rambutku dan ditariknya mendekat ke arah 'kemaluan'nya. Setelah puas menggosok-gosokkan 'batang kejantanan'nya di wajahku, tanpa basa-basi lagi didorongnya masuk kemulutku. Lalu kuemut-emut dengan segera. Diapun langsung menggerakkan pinggulnya, berulang-ulang menarik dan mendorong 'kemaluan'nya keluar masuk mulutku. Sementara Didi melepas bajunya disuruhnya aku untuk melepas pakaianku juga. Hingga akhirnya aku terpaksa mengemut-emut kepunyaan Didi dalam keadaan bugil. Tampaknya Didi tetap ingin berdiri saja, karena ajakanku agar dia naik ke tempat tidurku ditolaknya. Tapi karena mungkin merasa pegal dia menyandarkan dirinya ke pinggiran meja belajarku. Terus saja kucium, kujilat dan kuemut-emut 'alat kejantanan' Didi. Aku sendiri juga merasa bergairah atas perlakuan Didi yang kasar itu.

Mungkin karena sudah bergairah sejak tadi kelihatannya Didi ingin cepat-cepat mencapai 'klimaks'nya. Sambil menikmati 'kuluman' bibir dan mulutku pada bagian atas 'kemaluan'nya, tangannya sendiri mengocok-kocok bagian bawahnya. Akhirnya Didi mengerang panjang, … "Aargh, Ti keluar nih Ti." Dengan senang hati kutampung cairan kental 'air mani' Didi yang tersembur dari kemaluannya, banyak juga yang tertelan olehku.

Seolah-olah belum puas Didi lalu menarik 'kemaluan'nya dari mulutku dan terus mengocok-kocoknya. Aku hanya dapat berseru tanda puas, … "Aduuuh Di aduuuh." Sementara Didi berbicara mendesis, … "Ssh … aaah … rasain ditumpahin peju di muka … aaah." 'Air mani' Didi 'muncrat' keatas dan jatuh di wajahku, di leherku dan di dadaku. Aku terangsang sekali, bahkan juga terpuaskan oleh Didi. Masih sempat dibersihkannya 'kepala kemaluannya,' dengan menggosok-gosokkannya ke pipiku, sebelum Didi mengakhiri adegan permainan kami. Tersenyum Didi menatapku lalu berkata, … "Emang nggak salah kamu tuh lonte sejati." Aku hanya diam saja sambil mengusap-usap paha Didi, dan sesekali mengecupnya. Dengan harapan Didi tidak kembali beremosi lagi. Ketika Didi meninggalkan kamar tidurku, kurasa adanya perasaan rindu kepada 'pejantan' yang tadi telah begitu berani melecehkanku.

0 komentar:

Poskan Komentar

Cerita Sex Hot

Back to TOP